Dijatuhi Denda Rp75 Juta, Arema Siap Mengajukan Banding

    Daviq Umar Al Faruq - 20 Mei 2019 20:37 WIB
    Dijatuhi Denda Rp75 Juta, Arema Siap Mengajukan Banding
    CEO Arema FC, Agoes Soerjanto. (Foto: medcom.id/Daviq Umar)

    Arema berencana mengajukan banding atas sanksi dari Komdis PSSI. Manajemen Arema merasa, seharusnya yang paling bertanggungg jawab atas kericuhan ialah panpel PSS Sleman.

    Malang: Arema FC mendapatkan sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akibat kerusuhan yang terjadi pada laga pembuka Liga 1 Indonesia 2019, Rabu 15 Mei lalu. Saat itu, mereka bertandang ke markas PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo.

    CEO Arema FC, Agoes Soerjanto mengaku kecewa dengan keputusan Komdis PSSI tersebut. Pasalnya, berdasarkan rilis resmi PSSI, Arema sebagai tim tamu mendapat sanksi berupa denda sebesar Rp75 juta.
    Agoes menyebutkan, seharusnya panpel tuan rumah yang mendapat sanksi lebih berat karena melanggar pasal utama tentang regulasi Liga 1 2019. Yakni tidak mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada tim dan fans tamu.

    "Jangankan tim tamu. Saat laga pembuka juga terdapat undangan penting seperti kepala daerah setempat, pimpinan daerah lainnya serta petinggi PSSI dan LIB. Apalagi ini laga pembuka Panpel tentunya sudah harus mempersiapkan jauh lebih baik dari laga biasa. Faktanya, justru timbul ricuh karena ketidaksiapan panpel. Jika tidak siap sejak awal ajukan penundaan," katanya, Senin 20 Mei 2019.

    Agoes menjelaskan, sebelumnya panpel tuan rumah menyetujui kuota suporter Arema FC sebanyak 2 ribu untuk datang memberikan dukungan. Mendapat persetujuan tersebut, Aremania pun langsung melakukan persiapan sejak seminggu sebelum pertandingan.

    "Bayangkan, Aremania seminggu sebelum berangkat ke Sleman sudah koordinasi dengan manajemen, juga panpel terkait keberangkatan keamanan dan soal tiket. Meskipun ramadan, mereka bergembira menyambut bergulirnya Liga 1 dan datang dengan satu tujuan memeriahkan pembukaan dan mendukung timnya," imbuhnya.

    Namun, saat tiba di Sleman, yang awalnya disambut baik, jelang laga Aremania justru mendapat sambutan provokatif. Panpel tidak mampu mengantisipasi gangguan keamanan mulai dari area parkir, lorong pintu masuk sampai tribun biru dimana Aremania ditempatkan.

    Terlepas klaim itu ulah provokator, berbagai fakta dan laporan beberapa media menyebutkan bahwa panpel benar-benar tidak sanggup menguasai keadaan.

    Bahkan, banyak jatuh korban dari Aremania yang semestinya sebagai tamu wajib mendapatkan perlindungan.

    Baca: Persija Siap 100 Persen Hadapi Barito

    Apalagi, ajakan Wali Kota Sleman agar fan tuan rumah menghentikan tindakan kekerasan kepada fans tim tamu tidak diindahkan. Malah diperkeruh pernyataan salah satu LOC atau Panpel yang terekam secara live di TV yang seakan memprovokasi Aremania. 

    Hal itu, membuktikan bahwa panpel tuan rumah tidak mampu menghandle suasana agar lebih kondusif. Bahkan, suasana makin menyudutkan Aremania dan membuat jatuh korban dan berpengaruh terhadap psikis pemain tamu dan Aremania. Sebab laga berhenti sampai 55 menit.

    "Hasil laporan dari polisi setempat serta Aremania, ratusan Aremania mengalami luka-luka dan lebih dari 50 an kendaraan bus, minibus, mobil dan motor sengaja dirusak. Ini ganti ruginya lantas menjadi tanggung jawab siapa?," ujar Agoes.

    "Bahkan Aremania di luar stadion mulai laga berlangsung sampai pulang dilempari mercon, flare, kembang api bahkan ada molotov, batu dan benda benda tajam. Bagaimana tidak berdampak secara psikis kepada pemain dan suporter saat itu. Bahkan sekarang masih ada yang mengalami trauma," imbuhnya.

    Agoes menegaskan berdasarkan pertimbangan dan bukti-bukti bahwa panpel tuan rumah tidak siap, maka Arema FC bersiap untuk mengajukan banding untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan obyektif terkait keputusan sanksi Komdis PSSI. Hal itu diakuinya untuk menegakkan regulasi dan hukum agar sepak bola Indonesia bermartabat dan berkualitas.

    "Mereka sebagai tamu merasa ingin menahan diri. Bayangkan kalau mereka hanya diam. Akan banyak korban berjatuhan. Bayangkan kalau mereka tidak berusaha melindungi kendaraannya yang diserang. Harusnya obyektif komdis mengambil keputusan. Jika mereka membalas karena ingin mempertahankan diri dihukum. Saya khawatir kedepan akan berdampak pada perilaku suporter," pungkasnya.

    Video: Marc Marquez Si Juara MotoGP Prancis



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id