Upaya Vamos Indonesia Mengedukasi Suporter Indonesia

    Rendy Renuki H - 21 September 2019 06:16 WIB
    Upaya Vamos Indonesia Mengedukasi Suporter Indonesia
    Fanny Riawan (kedua dari kanan) founder Vamos Indonesia bersama para narasumber (Istimewa)
    Jakarta: Vamos Indonesia berupaya mengedukasi suporter di Indonesia. Edukasi tersebut dilakukan dengan menggelar talk show dengan beberapa pakar di bidangnya, Jumat 20 September.

    Founder Vamos Indonesia, Fanny Riawan merasa gelisah melihat perilaku suporter Tanah Air. Menurutnya edukasi perlu giat dilakukan termasuk kepada suporter klub maupun Timnas Indonesia.

    "Kalau anak-anak di Indonesia ingin jadi pemain sepak bola, orang tuanya ragu. Mau jadi apa kan rusuh terus. Itulah yang akan kita benahi. Karena suporter salah satu bagian dari ekosistem sepak bola," kata Fanny.

    Senada dengan Fanny, Kombes Jabinson Purba yang sempat mengikuti kursus tindakan pencegahan Hooligan di Scotland Yard pun mendukung program edukasi suporter. Menurutnya kepolisian tidak bisa berjalan sendiri menangani kisruh suporter yang kerap terjadi di Indonesia.

    Menurutnya kepolisian di Scotland Yard melibatkan sejumlah pakar, termasuk melibatkan klub. Sehingga suporter bisa dibina dalam satu wadah, dan pihak kepolisian bisa memperhitungkan jumlah personel penanganan kerusuhan. 

    "Kalau orang mau berkelahi ya berkelahi mau sebagus apa pun. Tetapi lebih mudah menanganinya, lebih sedikit daripada kita bandingkan di Indonesia," kata pria yang juga anggota Lemhanas tersebut. 

    "Di ASEAN saja, kita punya ASEANPOL (Organisasi Kepolisian ASEAN) tapi tidak punya database. Mereka punya EUROPOL dan punya databese, jadi bisa saling tukar. Jadi kepolisian bisa mengerahkan pasukan dengan melihat jumlah penonton," sambungnya.

    Sementara, Margie Tyaz yang merupakan narasumber dari Futbol Tours (agen perjalanan wisata sepak bola) menilai penanganan suporter harus berkiblat ke Eropa. Ia mencontohkan penanganan suporter di  Manchester United menurutnya salah satu yang terbaik.

    Mulai dari penataan dan pemisahan tribun antara suporter fanatik dan penonton biasa. Hingga strategi penjualan tiket pertandingan permusim yang diusung kebanyakan klub di Liga Primer Inggris.

    "Masalah Hooligans di sana lebih tertata banget. Kalau di Old Traffod, MU main itu ada satu zona khusus fans fanatik, adanya di belakang gawang. Kalau sisi timur dan barat itu orang-orang kelas menengah atas, karena harga tiketnya juga beda," tutur wanita yang menetap di Manchester tersebut.

    "Penjualan tiket juga langsung sekalian satu musim. Jadi buat penonton yang mau bikin onar juga akan mikir lagi, karena bisa mendapatkan hukuman larangan masuk stadion selama lima tahun," sambung Margie.

    Sementara, Ketua Paguyuban Suporter Indonesia, Ignatius Indro, menyambut baik upaya edukasi suporter. Menurutnya perilaku suporter yang kerap berbuat kericuhan bisa ditangani dengan berbagai cara, salah satunya pendekatan di daerah masing-masing.

    "Contoh melalui ulama, guru, dan stakeholder yang bisa melakukan itu hingga tingkat akar rumput. Pendekatan juga bisa saja dengan budaya masing-masing, karena beda daerah pendekatannya berbeda lagi," ungkapnya.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id