Australia Ingin Menyelamatkan Pesepakbola dari Penjara Bahrain

    Fitra Iskandar - 06 Februari 2019 19:34 WIB
    Australia Ingin Menyelamatkan Pesepakbola dari Penjara Bahrain
    Hakeem Al-Araibi ditahan otoritas Thailand.
    Australia dan Bahrain memperebutkan pemain sepakbola, Hakeem Al-Araibi. Sayangnya ini bukan masalah naturalisasi, tetapi menyangkut hukum. Jika Bahrain yang berhasil memboyongnya, Hakeem hampir dipastikan berakhir di penjara. Thailand terlibat dalam masalah ini. 

    BANGKOK - Bulan madu Hakeem al-Araibi bersama istrinya di Thailand berujung bencana. Belum sempat bersenang-senang, pesepakbola Australia itu ditangkap aparat saat baru tiba di Thailand.

    Ini bisa jadi akhir karier sepakbola Hakeem. Pemain Pascoe Vale FC itu harus siap diekstradisi ke Bahrain untuk menjalani hukuman 10 tahun penjara.

    Apa pasalnya?  Hakeem ternyata seorang pencari suaka. Pada 2014, pemain timnas Bahrain ini terbang ke Australia untuk mendapatkan suaka. Hakeem berhasil. Pada 2016, pemerintah Australia memberinya status permanent resident. Pemain 25 tahun itu, tinggal di Melbourne dan menikmati karier sepakbolanya.

    Sebelum, terbang ke Australia, pemerintah Bahrain menjatuhi hukuman 10 tahun penjara kepadanya dalam pengadilan in absentia pada 2014. Hakeem dianggap bersalah atas kasus vandalism kantor polisi pada 2012. Hakeem sendiri mengaku tuduhan itu tidak benar. Dia menuding vonis itu jatuh berdasarkan pengakuan saudara laki-lakinya yang menurutnya mengatakan itu di bawah siksaan.   

    Lama tinggal di negeri Australia membuat Hakeem kurang waspada. Ia santai saja terbang ke Thailand pada 27 November 2018. Itulah pertama kali ia keluar Australia semenjak kedatangannya.

    Nahas menjemputnya di bandara Thailand. Otoritas setempat langsung mengamankannya. Thailand menahan Hakeem karena Bahrain mengeluarkan permintaan internasional untuk penahanan dan ekstradisi Hakeem. Dia masuk dalam red notice. Red notice adalah permintaan untuk menemukan dan menahan orang yang dianggap terlibat kasus kriminal.

    Sebenarnya Hakeem bisa bebas melenggang di Thailand andai saja pemerintah Australia tidak lalai membebaskan Hakeem dari red notice. Sebab, dalam peraturan  Interpol, seorang pengungsi yang sah seharusnya dikeluarkan dari red notice. Australia sendiri belakangan mencabut red notice dan meminta Thailand memulangkan Hakeem ke Australia. Namun, Thailand nampaknya lebih condong membela kepentingan Bahrain.  

    Hakeem kini dalam ketakutan. Ia membayangkan bila sampai di Bahrain, ia akan mengalami siksaan atau nasib yang lebih buruk dari itu.

    Ketakutan ini juga dirasakan sejumlah kalangan di Australia. Mulai dari para pemain sepakbola profesional dan grup pembela hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Gulf Institute of Huan Rights and Democracy. Mereka ramai-ramai menggalang kampanye advokasi bagi Hakeem.

    Pemerintah Australia melalui Menteri Luar Negeri  MarisePayne, Federasi Sepakbola Australia dan FIFPro dan FIFA juga sudah mengeluarkan perimintaan untuk pemulangan Hakeem ke Australia.

    Thailand yang merasa berada di tengah-tengah kepentingan Bahrain dan Australia tidak mau ambil pusing. Negeri Gajah Putih meminta Bahrain dan Australia berbicara untuk mencari solusi.

    "Dengan situasi ini, Thailand tidak punya legitimasi untuk membuat pilihan, tetapi untuk kerja sama terkait hukum kami menyarankan dua negara, yang merupakan sama-sama teman baik Thailand, berbicara satu sama lain untuk mencari solusi daripada meminta  solusi tidak langsung kepada Thailand, yang dalam hal ini hanya terlibat secara kebetulan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Thailand.



    (FIT)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id