Kontras Catat 643 Kekerasan oleh Polisi Setahun Terakhir

    Candra Yuri Nuralam - 02 Juli 2019 00:25 WIB
    Kontras Catat 643 Kekerasan oleh Polisi Setahun Terakhir
    Koordinator KontraS, Yati Andiyani (tengah). Foto: Medcom.id/ Candra Yuri Nuralam.
    Jakarta: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat adanya 643 peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian sepanjang Juni 2018 hingga Mei 2019. Kepolisian masih sering bertindak semaunya.

    "Sedikitnya telah terjadi 643 peristiwa kekerasan oleh pihak kepolisian mulai dari tingkat polsek hingga polda setahun terakhir ini," kata Koordinator KontraS, Yati Andiyani di Kantor KontraS di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Senin 1 Juli 2019.

    Yati merinci, dari 643 kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian mencakup 33 kasus menyerang aktivis, 174 kasus menyerang warga sipil, 338 menyerang kriminal, 13 kasus menyerang jurnalis dan 40 kasus menyerang mahasiswa. 

    Kasus kekerasan itu mencakup penyiksaan, penggunaan senjata api dan pelanggaran HAM atas kebebasan berkumpul. Beberapa diantaranya, kata Yati, bahkan menimbulkan korban jiwa.

    Yati mengatakan, hal ini didasari oleh kebijakan main hakim sendiri oleh anggota kepolisian. Seharusnya, hal itu tidak diperbolehkan.

    "Penggunaan kewenangan dan diskresi oleh anggota polri dengan menggunakan kekerasan dan penanganan kasus proses penegajan hukum," ujar Yati.

    Yati berharap kepolisian bisa lebih mengawasi kembali tindakan para oknum di lapangan. Hingga hari ulang tahun Bhayangkara kali ini, KontraS masih menilai pengawasan terhadap kasus penganiayaan yang dilakukan kepolisian masih kurang.

    "Pengawasan yang lemah oleh pihak internal maupun eksternal dari kepolisian," tutur Yati.

    KontraS juga meminta kepolisian lebih berhati-hati dalam menggunakan tindakan kekerasan. Setidaknya, anggota polisi harus tahu jika melakukan tindakan kekerasan sama dengan merenggut hak asasi seseorang.

    "Polri harus meninjau kembali kewenangan dalam menafsirkan diskresi yang berujung pada munculnya korban karena tidak adanya ukuran maupun batasan penggunaan diskresi dan meninjau kembali minimnya efektiviyas dan fungsi pengawasan internan dan eksternal," tutur Yati.



    (EKO)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id