Calon Presiden Interpol Asal UAE Dituduh Lakukan Penyiksaan

Jenderal Ahmed Nasser Al-Raisi yang mencalonkan diri sebagai Presiden Interpol. Foto: AFP


Lyon: Kepala Pasukan Keamanan Uni Emirat Arab (UAE), Jenderal Ahmed Nasser Al-Raisi yang mencalon diri sebagai presiden Komisi Polisi Kriminalitas Internasional (Interpol) dituduh melakukan penyiksaan. 

Hal ini diketahui menambah kekhawatiran akan badan kepolisian global yang berdiri sejak 1923 tersebut, berisiko dikooptasi oleh rezim represif. 

Dilansir dari Yahoo News, Kamis, 25 November 2021, Al-Raisi telah mengupayakan pemilihan untuk peran seremonial dan sukarela sejak tahun lalu. Upayanya mengikuti tahun-tahun pendanaan yang murah hati untuk badan yang berbasis di Lyon, Prancis tersebut oleh pemerintah UAE.

Selain itu, terdapat tuduhan sistem Interpol yang disebut “red notices” untuk pencarian tersangka telah disalahgunakan guna menganiaya pembangkang politik. 

Perwira veteran yang mengawasi kerja sama internasional negara dalam masalah kepolisian, Sarka Havrankova dari Republik Ceko disebut menjadi satu-satunya yang menentang Al-Raisi dalam pemilihan di Majelis Umum Interpol tahun ini. Majelis akan diadakan di Turki untuk menentukan pemimpin untuk masa jabatan empat tahun.

“Pemilihan Jenderal Al-Raisi akan merusak misi dan reputasi Interpol dan sangat mempengaruhi kemampuan organisasi untuk menjalankan misinya secara efektif,” tulis tiga anggota Parlemen Eropa dalam surat tertanggal 11 November kepada Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen. 

Sementara posisi presiden bersifat simbolis, dukungan jenderal oleh 195 anggota kelompok tersebut “akan mengirim sinyal ke pemerintah otoriter lainnya”, menggunakan Interpol untuk mengejar kritik di luar negeri “tidak apa-apa”, kata asisten profesor yang berspesialisasi dalam represi transnasional di Universitas A&M Texas, Edward Lemon.



Pada Oktober 2020, 19 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), termasuk Human Rights Watch (HRW) menyatakan, prihatin terkait kemungkinan pilihan Al-Raisi. HRW menggambarkan sebagai “bagian dari aparat keamanan yang terus menargetkan kritik damai secara sistematis”.

Keluhan ‘penyiksaan’ pun diajukan terhadap jenderal tersebut dalam beberapa bulan terakhir di Prancis dan Turki. Keduanya menjadi tuan rumah sidang umum di Istanbul pekan ini.

 


Salah satu pengadu yang merupakan warga negara Inggris, Matthew Hedges mengatakan, ia ditahan dan disiksa antara Mei dan November 2018 di Uni Emirat Arab. penyiksaan dilakukan setelah Hedges ditangkap atas tuduhan spionase palsu selama perjalanan studi.

Dalam pengaduan lain, pengacara untuk Pusat Hak Asasi Manusia Teluk (GCHR) menuduh Jenderal Al-Raisi melakukan “tindakan penyiksaan dan barbarisme” terhadap kritikus pemerintah, Ahmed Mansoor.

Mansoor telah ditahan sejak 2017 di dalam sel empat meter persegi (43 kaki persegi) “tanpa kasur atau perlindungan terhadap dingin” dan “tanpa akses ke dokter, fasilitas kebersihan, air dan sanitasi”, ujar pengacara. Pengaduan ini tidak menghasilkan proses formal apapun terhadap Al-Raisi.

Sekretaris Jenderal Interpol, Jurgen Stock, yang menangani manajemen organisasi sehari-hari mengatakan kepada wartawan, ia “mengetahui tuduhan ini, yang saat ini menjadi masalah antara pihak-pihak yang terlibat”.

“Pada Kamis peran negara-negara anggota Interpol akan memutuskan apakah Al-Raisi harus mendapatkan peran itu,” kata Stock yang diberi masa jabatan lima tahun kedua pada 2019.

Presiden Interpol asal Korea Selatan (Korsel),Kim Jong-yang diketahui telah menjadi pemimpin sejak penangkapan pendahulunya, Meng Hongwei pada 2018 di Tiongkok. Saat itu, Jong-yang menjabat sebagai wakil menteri keamanan publik.

“Reputasi Al-Raisi yang dipertanyakan, apakah pantas atau tidak, merupakan faktor penting bagi organisasi,” tutur profesor sosiologi di University of South Carolina dan penulis buku tentang Interpol, Mathieu Deflem.

Laporan Mantan Direktur Penuntutan Publik Inggris, David Calvert-Smith yang diterbitkan pada Maret menyimpulkan, UEA membajak sistem red notices, pemberitahuan keinginan internasional guna menekan lawan. (Nadia Ayu Soraya)

Editor : Fajar Nugraha

Advertising