Sektor Industri Berkontribusi Paling Besar untuk PDB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (FOTO: Kementerian Perindustrian)
Jakarta: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II-2019. Adapun sektor industri tumbuh sebanyak 19,52 persen secara tahunan atau year on year (yoy).  

"Ada tiga sektor yang menopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada kuartal dua tahun ini, dan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,05 persen," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, melalui keterangan resminya, di Jakarta, Jumata, 23 Agustus 2019.

Tiga sektor utama tersebut, jelas dia, yaitu industri tekstil dan pakaian jadi yang tumbuh  hingga 20,71 persen, kemudian disusul industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang tumbuh mencapai 12,49 persen. Selanjutnya, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 7,99 persen.

Sementara itu, terjadi peningkatan investasi di sektor industri manufaktur, yang terlihat dari capaian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II-2019 yang melonjak dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Sepanjang periode April-Juni tahun ini, sumbangsih sektor manufaktur pada PMDN senilai Rp22,2 triliun atau di atas perolehan periode sebelumnya sebesar Rp16,1 triliun. Sedangkan sumbangsih sektor manufaktur untuk PMA di triwulan II-2019 menyentuh hingga USD2,5 miliar atau lebih tinggi pada triwulan sebelumnya di angka USD1,9 miliar.

"Tentunya investasi memberikan multiplier effect dalam rangka peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, membuka lapangan kerja baru, serta penerimaan devisa dari ekspor dan pajak," ungkap Airlangga, seraya menambahkan pertumbuhan industri mendorong terwujudnya Indonesia sentris dalam memeratakan pembangunan infrastruktur dan ekonomi secara inklusif.

Oleh karena itu, Airlangga mengemukakan, pemerintah sedang gencar mendongkrak nilai investasi terutama dari sektor industri. Selain guna memperkuat struktur perekonomian nasional, akan membawa dampak pula terhadap pendalaman struktur manufaktur nasional sehingga akan berdaya saing global.

"Investasi pun memacu kapasitas produksi sektor industri, sehingga seperti yang diinginkan oleh Bapak Presiden, kita harus berani melakukan ekspansi. Tidak hanya bermain di pasar dalam negeri saja, tetapi produk-produk kita harus mampu membanjiri pasar regional dan global," paparnya.

Sepanjang Januari-Juni 2019, pengapalan produk manufaktur nasional mampu menembus USD60,14 miliar. Nilai ini berkontribusi sebesar 74,88 persen dari capaian ekspor nasional yang menyentuh angka USD80,32 miliar di semester pertama tahun ini. "Jadi, produk manufaktur masih mendominasi ekspor kita," tutur Airlangga.

Adapun tiga sektor yang menyetor paling besar terhadap nilai ekspor nasional pada semester I-2019, yaitu industri makanan sebesar USD12,36 miliar, kemudian industri logam dasar USD8,14 miliar, serta disusul industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia USD6,37 miliar.

Editor : Angga Bratadharma