Perkumpulan Penulis Satupena Bertransformasi Menjadi Alinea

Agenda “Refleksi dari Satupena Menuju Alinea” dihelat secara daring, Sabtu, 22 Januari 2022. Foto: Tangkapan layar Zoom


Jakarta: Perkumpulan penulis yang tergabung dalam Satupena secara resmi bertransformasi menjadi Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea. Transformasi itu ditandai dengan pemotongan tumpeng dan penyerahan bubur merah putih dari Yogyakarta dan Malang kepada Presidium Alinea. 

Acara yang dilaksanakan Sabtu, 22 Januari 2022, itu dilaksanakan berbarengan dengan agenda “Refleksi dari Satupena Menuju Alinea” yang dihelat khusus menyambut tahun baru 2022 secara daring. Transformasi dari Satupena menuju Alinea dihadiri oleh lima orang presidium, pengurus, serta puluhan anggota dari berbagai kota di Indonesia. 

Refleksi juga diisi dengan orasi kebudayaan oleh penyair Warih Wisatsana, pembacaan puisi oleh Made Purnamasari, dan musikalisasi puisi oleh Reda Gaudiamo. Selain itu, tiga orang anggota Alinea, yakni Pinto Anugerah (Pekanbaru), Ita Siregar (Balige), dan Neni Muhadin (Palu). 

Koordinator Presidium Alinea, S Margana, mengatakan persatuan penulis sebelumnya tidak cukup lagi menampung energi kreatif yang semakin hari semakin membesar. 

"Kami membutuhkan wadah yang lebih besar. Sebagai orang kreatif, kami ingin selalu melahirkan alinea baru. Oleh sebab itulah kami memilih nama Alinea, tanda bahwa kami selalu ingin ide-ide yang segar,” katanya melalui keterangan tertulis, Senin, 24 Januari 2022. 

Dewan Presidium Mardiyah Chamim mengatakan Alinea didirikan untuk merawat dan memupuk semangat dari para penulis di Indonesia. 



Baca: Koperasi, Wadah Paling Ideal Perjuangkan Nasib Penulis

"Ini ibarat metamorfosa. Para penulis yang tadinya berada dalam wadah lain, dan kemudian menganggap wadah itu tidak lagi mampu menampung aspirasi dan ekspresi dunia kepenulisan yang terus berkembang, maka kami memutuskan membentuk Alinea,” kata Mardiyah yang menjadi salah satu pendiri Satupena bersama Hikmat Darmawan, Imelda Akmal, dan Sekar Chamdi. 

Refleksi penulis

Dipandu oleh Deasy Tirayoh, acara refleksi mengurai tentang ingatan bagaimana perjalanan sebuah organisasi penulis dibuat. Diawali sebagai wadah untuk menciptakan ekosistem yang sehat.
 
Presidium Alinea terdiri atas Mardiyah Chamim, Putu Fajar Arcana, S Margana, Imelda Akmal, dan Geger Riyanto. Secara bergantian mereka memaparkan sejumlah program, di antaranya konsolidasi dan penyusunan rencana strategis lima tahun ke depan.

"Ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penulis, peningkatan kapasitas, penguatan profesi, dan melindungi hak atas karya serta kemerdekaan menulis," kata Mardiyah. 

Warih Wisatsana dalam orasinya menuturkan, "Perjalanan Satupena menuju Alinea diibaratkan sebagai sebuah peristiwa moksa. Kita terlepas dari konsep lama menuju bentukan yang baru.” 

Dalam paparan tersebut, ia juga tak lupa mengingatkan bahwa Alinea merupakan rumah sejati yang menampung spirit penulis untuk menyuarakan makna hidup bagi sebanyak-banyaknya orang secara luas tanpa sekat.

"Alinea tak sekadar rumah bersama bagi para penulis, tetapi bertanggung jawab membangun ekosistem dunia kepenulisan yang lebih sehat dan bermartabat. 

"Bahkan, lebih jauh lewat tulisan kita harus membangun masyarakat yang lebih baik,” kata Warih. 

Penulis Pinto Anugrah, Ita Siregar, dan Neni Muhidin yang menjadi representasi penulis dari beragam wilayah di Indonesia juga mengutarakan rasa percaya diri akan potensi Alinea. Mereka berharap Alinea semakin solid membangun kekuatan untuk saling berjejaring.

Semua berharap Alinea menjadi wadah bagi penulis dapat merefleksikan seluruh peristiwa dan pembelajaran guna bergerak maju melahirkan gagasan yang lebih baik. "Semua untuk dunia tulis-menulis yang lebih baik,” kata Neni Muhidin.

Editor : Wandi Yusuf

Advertising