Aktif Dukung FSRD ITB, Politikus Golkar Hetifah Diganjar Penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Hetifah Sjaifudian, mendapat penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama. DOK ITB


Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan penghargaan pada Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Hetifah Sjaifudian. Pemberian penghargaan dalam rangka memperingati pendirian Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia (PTTI) ke-102 tahun.  

Hetifah mendapat penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama untuk kategori perorangan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Rektor ITB Reini Wirahadikusumah. Itu merupakan penghargaan bagi pihak-pihak yang telah menunjukkan jasa atau mempunyai prestasi dalam mendukung pengembangan institusi ITB.

Selama ini, Hetifah dinilai amat konsen mendukung pengembangan kapasitas SDM kreatif di bidang digital media dan pendidikan serta komunitas berbasis teknologi, seni, dan desain melalui berbagai program strategis nasional, salah satunya Program Beasiswa Unggulan di FSRD ITB yang dirintis sejak 2017. Selain itu, dia juga aktif mendukung kegiatan FSRD ITB dalam memajukan ekonomi kreatif di Indonesia.

Hetifah mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada ITB atas penghargaan itu. Hetifah merasa terhormat mendapat penghargaan itu. 

"Teringat kembali saat pertama masuk ITB 40 tahun yang lalu, di mana saya mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, teman, dan pengalaman yang berharga untuk berkinerja di berbagai lanskap tempat saya berkiprah di kehidupan,” tutur alumni ITB ini.

Hetifah selalu percaya pentingnya perguruan tinggi teknik untuk menjadi lokomotif perubahan bangsa. Dia bakal terus berjuang untuk pengembangan pendidikan teknik di Indonesia.



ITB juga memberikan penghargaan kepada 19 orang dari berbagai kalangan. Sekretaris ITB Widjaja Martokusumo mengatakan penghargaan diberikan kepada akademisi, politikus, pejabat pemerintah, dan instansi, atas prestasi, jasa, dan kontribusi kepada pendidikan tinggi teknik. 

“Angka 19 ini enggak ada hubungannya dengan covid-19 ya jadi kebetulan saja,” ujar dia. 
 

 

Widjaja berharap penganugerahan penghargaan ini dapat mendorong kemajuan Pendidikan Tinggi Teknik lebih jauh lagi. Serta memotivasi semua pihak menorehkan banyak prestasi sehingga dapat menambah kontribusi untuk PTTI, khususnya di ITB. 

Penghargaan ini dikategorikan menjadi lima kategori. Yaitu Ganesa Prajamanggala Bakti Adiutama, Ganesa Widya Jasa Adiutama, Ganesa Wirya Jasa Adiutama, Ganesa Widya Jasa Utama, dan Ganesa Wirya Jasa Utama.

Rektor ITB, Reini Wirahadikusumah, menyatakan PTTI, termasuk ITB perlu meningkatkan keterpaduan antara kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat lewat pengembangan pola-pola antar maupun lintas disiplin dan peningkatan kerja sama dengan berbagai sektor dan organisasi.

“Kami sangat menyadari pentingnya PTTI untuk senantiasa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan. Kami perlu meningkatkan kualitas karya-karya kami serta memperkuat keunggulannya untuk meraih reputasi internasional yang semakin tinggi,” ujar dia. 

Semantara itu, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB Yani Panigoro menyampaikan perlu upaya untuk merevolusi cara belajar dan penyelenggaraan pembelajaran di pendidikan tinggi teknik. Dia menyoroti kampus yang melahirkan alumni dan ilmuwan yang sempit cara berpikirnya, hanya melahirkan spirit kompetensi keilmuwan, kejar keuntungan, tapi mengesampingkan aspek kemanusiaan.

“Perlu kolaborasi dalam masyarakat dan menjadikan kepentingan masyarakat di atas agenda pribadi dan golongan. Contoh saja Sarah Gilbert dari Oxford University, yang tidak ingin menguasai hak paten dari temuan vaksin covid-19, ia dedikasikan ilmunya untuk memuliakan aspek kemanusiaan,” kata Yani Panigoro.

Ketua Senat Akademik ITB Hermawan Kresno Dipojono mengatakan keberadaan PTTI berkualitas dunia merupakan investasi vital bagi keberlangsungan bangsa dan negara. Faktanya, anggaran untuk pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir justru terus menurun.

“Implikasinya adalah kebutuhan riset untuk mendukung daya saing bangsa jadi tidak berjalan maksimal. Dengan situasi seperti ini, tentu wajar jika Indonesia tidak diperhitungkan sama sekali sebagai penantang serius terhadap hegemoni Barat yang berbasis pada penguasaan sains dan teknologi," tutur dia. 
 
Baca juga: 102 Tahun Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia, ITB Gelar Sidang Terbuka 

Editor : Renatha Swasty

Advertising