Yasin Limpo Pakai Drone untuk Memetakan Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan pemanfaatan teknologi untuk pertanian bisa segera diaplikasikan secara masif di era industri 4.0. Peralatan canggih yang dipilih yakni pesawat nirawak atau drone.

Syahrul sepakat konsep bertani menggunakan teknologi saat ini menjadi sebuah keharusan dalam meningkatkan produktivitas pangan di Tanah Air. Kehadiran drone yang dipadukan dengan aplikasi digital pun bisa digunakan untuk memetakan tantangan yang dihadapi petani.

"Saya ingin mengatakan bahwa kita tidak menisbikan kekuatan atau kemajuan teknologi yang ada dan bagian dari bagaimana membangun produktivitas yang makin baik dan biaya produksi yang makin rendah itu harus dituju," kata Syahrul ditemui di kompleks perkantoran Kementan, Jakarta, Senin, 11 November 2019.

Ia memastikan aplikasi drone bukan untuk menghilangkan lapangan pekerjaan terutama petani tradisional. Para petani bahkan bakal menerima manfaat yang lebih besar dengan bantuan teknologi.

"Kami uji coba lapangan dulu. Kita ini penduduk dengan jumlah demografi yang sangat besar. Penerapan ini harus bijaksana, tentu berproses," ujarnya.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini  tertarik dengan drone buatan anak bangsa lantaran kualitasnya mampu bersaing dengan produk buatan luar negeri. Saat ini, penjejakan sudah dilakukan dengan perusahaan pembuat drone yang telah diproduksi massal di Yogyakarta.


Kementan akan menggunakan drone untuk pertanian. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

"Drone yang ada di sini semua pengendalian pertanian kita bisa lakukan bersama, penyiraman dan lain-lain bisa 500 hektare (ha) dalam satu setengah jam, kalau dilakukan manusia mungkin hanya 5-10 ha," ungkapnya.

Penerapan pertanian modern ini juga nantinya diproyeksikan bisa terus digemari, terutama masyarakat milenial Indonesia. Sehingga, beragam aplikasi pemanfaatan teknologi tersebut bisa diterapkan di berbagai produksi pangan.

"Kami tertarik karena anak-anak kita enggak kalah dan ini buatan tangan anak Indonesia. Mesin penetas telur saja dibuat oleh lulusan anak-anak S1 Indonesia dan ini job milenial yang kami sikapi," tuturnya.

Drone multifungsi yang bakal dimanfaatkan Kementan satu di antaranya yakni bernama Aeropro. Produk buatan Inaero.id ini bisa berguna untuk menghitung luas lahan, menghitung jumlah pohon, hingga mendeteksi kesuburan tanah.

"Ini fungsinya kalau dibidang pertanian bisa mengukur luas lahan pertanian, bisa menghitung jumlah pohonnya, dan bisa mendeteksi kesuburan tanahnya," kata CTO Inaero.id Rake Silverrian.

Aeropro dihadirkan dengan dua model pesawat fixed wing yakni tipe A dan tipe B. Masing-masing punya kemampuan untuk terbang dengan cruise speed 60-130 kmh dan wind resistence up to 120 kmh dengan durasi terbang mencapai 120 menit.

"Kita bisa lihat tanamannya, kesuburannya juga bagaimana, kemudian kita bisa pakai drone ini untuk manajemen subsidi pupuk," ungkapnya.

Drone lainnya yang telah dilirik Kementan yakni bernama Ferto, berfungsi untuk penyemprotan cairan. Drone dengan model baling-baling tersebut punya dua versi drone pertanian yakni Ferto 05 dan Ferto 15. Keduanya didesain dengan rangka lipat untuk memudahkan mobilisasi.

Perbedaan mendasar hanya pada kapasitas angkut, Ferto 05 punya kapasitas muatan hingga 5 liter, sedangkan Ferto 15 berkapasitas hingga 15 liter. Ferto 15 mampu terbang selama 10-15 menit dan bisa menyesuaikan kontur tanah secara otomatis.

"Perto 05 ini produk khusus pertanian yang digunakan untuk kebutuhan herbisida, pestisida, maupun penyemprotan pupuk. Yang penting berupa cairan," terang Marketing Chief Operation PT Karya Solusi Angkasa Arif Juwarno.

Editor : Ade Hapsari Lestarini

Advertising